Rafa dan Tas Barunya

” Bu, ada barang promo nih.” kata teman sekantor yang kebetulan anggota MLM produk fashion di jam istirahat, sambil mengeluarkan beberapa jenis barang mulai dari tas, sepatu, baju dan asessoris. ” sebagian sudah ada yang punya karena memang barang pesanan, tapi saya pesannya lebih jadi ada sisanya. sapa tau ada yang berminat.” terangnya.

” Bu Ifah, ini ada tas lucu, sisa satu, kayaknya cocok sekali untuk rafa” tawarnya padaku sambil menunjukkan sebuah tas mungil berwarna coklat muda dengan hiasan kepala boneka singa. Karena harganya tak terbilang mahal dan bentuknya yang lucu, jadi juga aku membelinya. Nah lo, tergoda lagi kan…. Susah sekali memang (apalagi buat ibu-ibu) menahan godaan untuk tidak membeli barang-barang yang ditawarkan apalagi jika barang tersebut berlabel “barang promo”. Karena di benak kita yang namanya promo biasanya identik dengan “murah”.

Tas anak lucu

Sepulang dari kantor barulah tas itu kuberikan pada bungsuku Rafa. Setelah mengucap “makasih” lengkap dengan bonus peluk cium, kemudian mencari beberapa benda yang bisa dimasukkan kedalamnya, disandanglah tas itu kemana-mana.

Mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia suka akan barang baru, terlebih lagi anak-anak. Lihat saja Rafa, sejak kuberi tas baru siang harinya, hingga sore hari si tas masih dengan setia nangkring di pundaknya. Keluar masuk rumah “sekolah-sekolahan” katanya, makan, minum, pipis, tasnya ga mo dilepasin. Cuma waktu mandi saja bisa, dengan alasan nanti tasnya basah, hehehe. Tapi setelah itu ya kembali lagi, bahkan sampai tidur malam harinya, tasnya tetep dibawa, ga boleh dilepasin. Untuk menjaga suasana agar tetap kondusif (aman dari suara jeritan dan tangisan Rafa yang biasa terjadi jika dipaksa) akhirnya kubiarkan tas itu menemani tidurnya. Setelah kuanggap cukup nyenyak dengan cara membolak balik badannya dan dia tidak terjaga, barulah tasnya kulepaskan. Dasar anak-anak, barang baru maunya dibawa-bawa terus…..

Rafa tertidur dengan tas baru di punggungnya

Tak perlu khawatir dengan sikap anak kita yang seperti ini, suka dengan barang baru. Wong, kita saja yang sudah segede gini masih suka juga dengan barang baru, apalagi ini sifatnya hanya sementara. Paling lama seminggu, setelah itu bosan dan tidak lagi, terlebih kalau ada barang baru lainnya yang lebih disukai.

Jika Anak Phobia Air

Bungsuku Rafa berusia 2,5 tahun punya masalah phobia air. Sebenarnya ketakutannya tidak pada semua air, karena kalau mandi dia suka berendam dalam waktu lama, tak jarang mesti dipaksa untuk keluar dari bak dan mengakhiri semua aktivitasnya. Phobianya hanya pada air yang mengalir dan dalam volume yang besar seperti air sungai, danau dan air laut.

Phobia air bungsuku ini dulunya cukup parah. Ini mulai terdeteksi saat aku dan ayahnya mengajaknya ke sebuah tempat wisata dengan danau buatan, dimana disana kami menyewa sepeda air berbentuk bebek. Awalnya, dia senang sekali tapi selang beberapa saat, dia menjadi histeris dan menangis minta pulang ke rumah secepatnya. Lain waktu kami berdua mengajaknya ke cek dam dengan sebuah saung ditengah kolam ikan yang cukup luas, disana kita bisa langsung memberi makan ikan-ikan mas dari saung tadi. Hal serupa terjadi, awalnya dia senang sekali tapi selang beberapa saat dia jadi histeris dan menangis minta segera pergi dari tempat itu.Pernah juga, kami mengajaknya ke “senggol” (sebutan pasar malam dekat pantai di pare-pare), saat menunggu pesanan makanan iseng-iseng kududukkan dia di kursi dengan posisi menghadap ke laut karena pemandangan sore itu sangat indah.  Tak berbeda dengan kejadian sebelumnya, awalnya dia senang  melihat perahu nelayan dan kapal-kapal yang melintas tapi tiba-tiba histerisnya kambuh lagi. Sampai-sampai makanan yang sudah terhidang terpaksa minta dibungkus saja karena tak bisa menguasai ketakutan bungsuku itu. Sedih dan bingung kami dibuatnya.

Aku tak tahu, apa penyebab pasti bungsuku ini menjadi takut air karena dulunya dia tak seperti itu. Apa karena dia pernah melihat kakak dan ayahnya pernah digulung ombak di pantai Lumpue saat sedang bermain pasir? Padahal kakak dan ayah malah tertawa-tawa karena seru. Saat itu dia memang histeris dan memanggil ayah dan kakak berkali-kali untuk segera menjauh dari air laut. Tapi entahlah, itu hanya menduga-duga saja.

Beruntung, phobia airnya sekarang mulai berkurang. Ini terbukti saat liburan kemarin, kami (aku dan ayah) mengajaknya naik sepeda air bebek lagi, tujuannya untuk terapi. Tentu saja dengan dibumbui berbagai rayuan dan hal-hal menarik, salah satunya bermain peran.  Seolah kami sedang bermain perang-perangan. Kakak dan adik sebagai serdadu dan bersiap menembak musuh di depan. Ayah sebagai kapten kapal (bertugas mengayuh), Bunda navigatornya.  Jadi sepanjang perjalanan yang terdengar keriuhan “doooor… doooorrrr….”, “tembak……. musuh di depan”, “kiri, kanan, awas….” begitulah sampai sepeda airnya merapat. Alhamdulillah, bungsuku sama sekali tak histeris seperti sebelumnya.

Setelah naik sepeda air

Ayah juga mengajak adik kakak bermain air dan mandi di bendungan. Awalnya agak takut, tapi setelah main ciprat-cipratan air, akhirnya mereka suka. Salah satu bentuk terapi juga, hehehe
Terakhir saat kuajak adik kakak ikut rekreasi keluarga besar puskesmas tempatku bekerja ke pantai Dewata di Wakka Kabupaten Pinrang, pertengahan januari kemaren, phobia airnya semakin berkurang. Seperti sebelumnya, awalnya agak sedikit takut, tapi lama kelamaan mereka akhirnya menikmati serunya bermain pasir di pantai dan sesekali disapu buih ombak.

Adik dan Kakak sedang asyik bermain pasir di pantai

Ayah, Bunda…. Ketakutan anak-anak pada sesuatu seperti takut air, takut gelap, takut ditinggalkan, takut petir, dan ketakutan lainnya merupakan hal yang wajar. Ketakutan ini ada pada setiap anak, hanya saja kadarnya yang berbeda, ada sedikit dan ada pula yang banyak. Tapi usahakan jangan memberi label “penakut” pada mereka. Karena bisa jadi ini akan melekat di benak mereka dan akhirnya mereka berfikir klo mereka itu benar-benar seorang penakut. Cobalah untuk memberi terapi, menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri mereka. Kalaupun tak bisa menghilangkan semua ketakutannya, minimal bisa mengurangi.

Biasakan Anak Baca Buku

“Bunda, biasakan anak-anak kita membaca buku. Kalau toh sekarang mereka belum bisa membaca, itu menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk mengenalkan buku-buku pada mereka dengan cara membacakan isi dari buku tersebut, agar mereka terbiasa nantinya.” Begitu pesan suamiku padaku saat kami merapikan buku-buku yang baru dibeli di IBF akhir tahun 2011 lalu.

Aku sangat setuju dengan apa yang dikatakannya. Membacakan buku cerita atau berdongeng tak hanya merupakan salah satu bentuk stimulasi untuk mengembangkan kecerdasan bahasa/linguistik si anak tapi juga dapat mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak karena waktu yang dihabiskan bersama anak merupakan moment berharga yang sangat berpengaruh dalam perkembangan mental mereka. Merasa diperhatikan, disayang dengan meluangkan waktu akan memberi efek positif pada perkembangan mereka.

Kendalanya terkadang justru datang dari kita orang tua. Tak jarang anak kita sangat antusias terhadap suatu buku/bahan bacaan tapi justru kita tak punya cukup waktu untuk melayani keingin tahuan anak kita terhadap bacaan tersebut, terutama anak-anak balita yang masih belum bisa membaca dan ini berarti kita yang harus full membacakan seluruh isi ceritanya. Tak hanya itu, jika kita membacakan cerita, kita juga harus siap dengan berbagai pertanyaan yang terkadang justru seratus delapan puluh derajat bedanya dengan isi cerita.

Sulungku berusia 5,5 tahun, baru belajar mengeja dan bungsuku berusia 2,5 tahun sama sekali belum bisa membaca jadi otomatis setiap buku cerita harus dibacakan. Ditambah lagi terkadang keduanya minta dibacakan cerita yang berbeda, jadi bingung, hehehe. Solusinya ya kalau ada ayah, jadi masing-masing dapat satu pendongeng. Kakak dengan ayah dan adik dengan bunda atau sebaliknya.

Tak jarang kakak malah yang membacakan cerita untuk adik, lebih tepatnya sih menceritakan kembali dengan cara menghapalkan cerita dari gambar-gambarnya, soalnya kakak belum bisa membaca. Dan salah satu buku cerita favoritnya ya “Dongeng dengan Stiker” terbitan Erlangga For Kids. Kadang aku heran, kok bisa dia tahu kalau aku melewatkan beberapa kalimat di cerita padahal dia belum bisa membaca. Pas kutanyakan, eh ternyata, dia hapal cerita dari gambar-gambarnya.

 

Buku cerita dengan stiker terbitan Erlangga for Kids

 

Yang menarik dari buku ini, selain dilengkapi stiker bergambar yang merupakan bagian dari isi cerita, buku ini juga dilengkapi stiker gambar bebek kuning lucu dengan tulisan “aku menemukan bebeknya” yang harus ditempelkan pada semua gambar bebek tersembunyi yang ada pada setiap halaman buku cerita. Menemukan bebek-bebek tersembunyi inilah bagian yang paling disukai anakku. “Ini bebeknya, Bunda….”, “Ini ada lagi……”, “yang ini juga…..”, “hore…… dapat semua” pekiknya gembira setiap kali menemukan gambar bebek tersembunyi itu. Dan tak butuh waktu lama untuk memindahkan semua stiker itu ke dalam buku.

 

Kakak dan Adik membaca/melihat buku cerita

Serunya Bermain di Halaman

Sore hari adalah salah satu waktu yang paling ditunggu-tunggu kedua buah hatiku. Apalagi kalau hari sedang cerah. Ada apa dengan sore hari? Ya, karena sore hari adalah waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Dan biasanya sulungku sudah membuat janji dengan mereka di sekolah pada pagi harinya. “Bunda, nanti sore Ariel, Happa, Indi, Addi sama anak-anak yang lain mau main ke sini. Tadi sudah janjian di sekolah. Boleh ya?!”  lapornya sepulangku dari kantor. “Boleh dong, asal jangan bertengkar dan mainannya dirapikan kembali setelah dipakai. Oke?!” pesanku. “Oke, Bunda Bundi…” serunya senang.

Ada dua hal yang sering dilakukan sulungku kalau sedang bermain dengan temannya di rumah. Kalau tidak bermain di halaman, ya biasanya menonton film kartun beramai-ramai. Kebetulan kami punya banyak koleksi film kartun baik hasil download dari internet maupun kaset dvd yang dibelikan ayah. Dan film kartun yang paling digemari adalah “paddle pop elemagika” hadiah dari membeli lima buah es krim. Nyaris setiap hari diputar, tak bosan-bosan juga mereka. Salah satu alasan kuat dikarenakan filmnya sudah di dubbing berbahasa indonesia dan ceritanya juga tentang petualangan. Setelah bosan menonton, barulah aktivitas mereka berlanjut di luar rumah.

Seperti biasanya, sore ini sulungku sudah menunggu temannya di halaman rumah dengan dua kardus mainan building blocks. Dan benar saja, tak butuh waktu lama mereka semua sudah datang dan tanpa dikomando langsung berebut untuk membuat berbagai bentuk yang disukai.

lagi asyik menyusun building blocks

Kalau sulungku dan teman-temannya sibuk menyusun building blocks, maka bungsuku malah asyik bermain bola sendiri. Bola yang ditinggalkan pemiliknya karena sedang asyik bermain bentuk. Mungkin karena ia merasa tak mampu bersaing menyusun block-block yang diambil sulungku dan teman-temannya dengan sedikit berlomba. Prinsipnya, siapa cepat dia dapat, hehehe….

Rafa asyik bermain bola

Setelah masing-masing menyelesaikan bentuk yang disukainya jadilah ajang pameran hasil karya. Tak lama kemudian di bongkar lagi, bentuk lagi, begitu berulang-ulang sampai akhirnya entah siapa yang memulai, building blocks tiba-tiba berubah bentuk menjadi pucuk-pucuk senjata dan “door… doorrr….” jadilah adegan tembak-tembakan yang seru. Sampai ada yang berguling dan naik di pohon. Begitulah anak-anak, selalu penuh dengan ide, apalagi kalau sedang bermain.

Emil dan Rafa memanjat pohon

Bermain tembak-tembakan

Permainan seru tak hanya bisa di dapat di wahana-wahana rekreasi, di halaman rumah juga bisa. Asal ada teman bermain dan benda yang bisa dimainkan. Tak perlu mahal, bisa menggunakan benda-benda di sekitar rumah juga.

Agar Mewarnai dan Mencetak Lebih Menyenangkan…..

Terkadang, untuk membuat anak kita tertarik melakukan kegiatan yang mungkin mulai membosankan karena sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari, kita harus memikirkan cara lain supaya kegiatan yang membosankan itu kembali menjadi hal yang menyenangkan.

Seperti hari ini, untuk membuat sulungku tertarik mewarnai gambar lagi setelah beberapa hari absen karena bosan katanya. Bosan karena setiap hari ia selalu memakai benda yang sama, kalau bukan crayon ya pensil warna. Aku harus mencari cara bagaimana supaya kegiatan mewarnai ini kembali menjadi aktivitas yang menyenangkan baginya.

Beruntung, tak perlu waktu lama menemukan solusinya. Saat aku membeli alat tulis, tak sengaja melihat cat air yang juga dijual di toko yang sama. Sebenarnya untuk anak seusia sulungku Emil belum waktunya untuk memakai benda seperti cat air karena tingkat kesulitannya. Tapi  tak ada salahnya mencoba mengenalkan. Apalagi aku sudah punya ide bagaimana cara memakainya nanti.

Sesampainya dirumah, aku mencari beberapa benda yang kuanggap sangat berguna untuk kegiatan yang akan kami lakukan. Pelepah daun pisang (yang terlebih dulu kubuang daunnya), sebuah belimbing dan beberapa helai daun jambu. Tak perlu bahan yang rumit, cukup yang ada di sekitar rumah saja. Berkreasi tak harus mahal kok, hehehe.

Dan benar saja, saat aku mengutarakan niatku untuk mengajaknya mewarnai dengan menggunakan cat air. Dia kelihatan sangat tertarik. Terbukti dengan kesediaannya menyiapkan semua peralatan yang akan dia gunakan sendiri. Rajin karena ada maunya, hehehe.

cat air, belimbing, pelepah pisang dan kuas untuk digunakan mewarnai

Setelah semua yang dibutuhkan ada, sekarang waktunya memulai. Kuambil satu warna cat air, kukeluarkan di colour plate, beri beberapa tetes air, ratakan dengan kuas. Nah, siap dipakai. Kuberi contoh sekali dengan mengambil belimbing yang ujungnya di iris, celupkan di pewarna lalu cetak di atas kertas. Beruntung, Emil cepat tanggap, bahkan belum sempat aku contohkan dengan benda lainnya, semua sudah berpindah ke tangannya “tidak usah dicontohin lagi, Bunda. Kakak sudah bisa…!” katanya semangat. Dan benar saja, beberapa saat kemudian tangannya sudah sibuk berkreasi di atas kertas. Kubiarkan saja ia menikmati aktivitasnya, sambil sesekali bertanya kalau saja dia butuh bantuan. “tidak, Bunda… kakak bisa sendiri” jawabannya setiap kali kutanya. Bagus lah….

membuat gambar bintang dengan belimbing

 

mewarnai gambar ikan

gambar ikan dengan sirip dari hasil cetak menggunakan pelepah daun pisang

Nah, seru bukan….?! Mewarnai dan mencetak menggunakan benda-benda sederhana di sekeliling kita. Mudah, murah dan menyenangkan. Hasilnya juga bagus kan..?!  Selamat Mencoba…

 

 

 

 

 

Mother Bukan Monster I Buku Inspiratif Untuk Para Ibu

Liburan akhir tahun kemarin, suamiku menghadiahkan sebuah buku. Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru bagiku karena membelikan buku bacaan dan majalah (Ummi & Reader Digest) termasuk salah satu rutinitasnya. Ya, mungkin ini salah satu upaya mencerdaskan istri selaku sekolah pertama bagi kedua buah hatinya atau minimal agar tak ketinggalan informasi, hehehe.

Buku itu dibelinya di IBF 2011 awal Desember kemarin. Masih ingat waktu dia menelpon dan berkata “ Bunda, aku beliin Bunda buku. Bagus deh. Isinya Bunda banget. Dijamin Bunda pasti suka. Minimal setelah membacanya nanti, Bunda merasa nggak sendirian menghadapi tingkah polah anak-anak seperti  Emil dan Rafa….”.

Sudah beberapa lama buku itu menghuni rak buku. Waktu datang, suamiku langsung sibuk dengan anak-anak yang berpesta dengan buku-buku yang juga dibeli ditempat yang sama. Berbagai jenis buku cerita dan buku aktivitas untuk balita segera berpindah dari box ke atas meja. Maklum, lagi diskon besar-besaran, jadi belinya juga membabi buta, hehehe. Dan akhirnya, suamiku harus kewalahan melayani berbagai permintaan kedua bocah itu hingga ia lupa memberikan buku yang dijanjikannya padaku. Sama halnya aku lupa menagih janjinya.

Akhirnya, baru hari ini aku sempat membaca setelah tak sengaja melihat judulnya yang menggelitik “ Mother Bukan Monster” di rentetan buku yang berjajar rapi di rak. Dan, buku ini ternyata benar-benar spesial. Kenapa? Karena setidaknya ada empat alasan mengapa buku ini tergolong spesial (terutama bagiku):

  1. Judulnya simpel tapi sangat menarik, membuat penasaran “Mother Bukan Monster” kesannya malah sedikit lucu. Sangat pas untuk para ibu (seperti aku, apalagi aku tergolong ibu yang kadang emosional)

    Buku " Mother Bukan Monster"

  2. Catatan ditulis oleh salah seorang penulis/novelis favoritku sejak jaman masih SMA ( pertama mengenal majalah remaja dan novel/novis) Mas Gol A Gong (selain HTR, Asma Nadia, Pipit Senja, Ifa Afianty dan biru laut). Apalagi berkolaborasi dengan istri tercinta Mbak Tias Tatanka.
  3. Buku ini adalah kumpulan cerita pengalaman sehari-hari sebagai ibu dan istri dari lima belas ibu luar biasa.
  4. Buku ini lengkap dengan tanda tangan asli dan note dari Mbak Tias dan Mas Gong

    Tandatangan dan note dari Tias Tatanka

Tandatangan dari Gol A Gong

Dan, isinya persis dengan apa yang pernah dilontarkan suamiku “Bunda banget…..” hehehe. Sembilan puluh persen kisahnya sepertinya pernah bunda alami. Bagus tidaknya sih memang subjektif tapi aku yakin, setiap ibu yang membaca pasti akan memberi penilaian yang sama, Bagus dan Sangat Inspiratif.

“Bibir Tias pun tiba-tiba saja mengerucut, nafas turun naik, mata mendelik menahan amarah. Pokoknya sadar diri, saat itu muka Tias ga ada cantik-cantiknya sama sekali!” Salah satu kalimat dalam catatan Gol A Gong dan Tias Tatanka yang mengingatkanku pada kalimat suamiku “ Bunda kalau marah, wajahnya cemberut, merengut, mata melotot, jeleeeeek banget, menakutkan, lebih baik kabur. Seandainya ada kamera, mau ayah foto trus kalau sudah nggak marah mau ayah tunjukin biar tahu kalau marah bunda jadi jelek, makanya anak-anak pada ketakutan.” Nah kalau marah kayak gini, sepertinya kurang tanduk dan taring, berubah deh jadi monster, hehehe…. Bedanya, kalau mbak Tias lebih sering TIDAK LULUS menjadi monster ketika marah tapi aku justru kebanyakan LULUSnya, karena nyaris setiap hari senewen dengan ulah anak-anakku.

Setelah membaca buku ini, Bunda jadi tahu, ternyata tak hanya Bunda yang kadang marah, kesal, jengkel…. ternyata tak hanya Emil dan Rafa yang hiperaktif, ga bisa diam, suka bikin ulah, suka banyak protes, dll, dsb…. Masih banyak ibu, bunda dan mama lain yang juga mengalami hal yang sama. Hanya saja sebahagian dari mereka lebih bijak menyikapi dan lebih sabar daripada bunda.

Bunda memang harus lebih banyak introspeksi, belajar untuk lebih bijak dan belajar untuk lebih sabar. Kalau mereka bisa, kenapa Bunda tidak?! Meski Bunda pernah bahkan mungkin sering jadi monster, tak ada salahnya kalau bunda berkeinginan untuk tak mau jadi monster lagi. Eh, salah ding bukannya tak ada salahnya, malah HARUS…. hehehe

Khusus Buat Suamiku tercinta “ Terimakasih Ayah sayang, this is really a little thing with big influence “

Melayani Dalam Balutan Pakaian Adat Bugis

Ada yang berbeda hari ini di puskesmas tempatku bekerja. Biasanya pada hari selasa, hanya ada dua warna seragam yang dikenakan petugas, yakni pakaian dinas harian berwarna khaky bagi petugas non medis dan putih putih bagi dokter dan paramedis (perawat). Tapi aturan itu tidak berlaku untuk hari ini dan besok pagi (tanggal 18 dan 19 Oktober 2011). Hari ini benar-benar “full colour”, nyaris semua warna ada. Suasana apel pagi pun seolah berubah jadi ajang pemilihan “ana’ dara (gadis) dan kallolo (bujang) na Sidenreng”, hehehe….

Suasana apel pagi di halaman puskesmas

Sepanjang pagi kulihat keheranan di wajah pasien dan keluarga. Baik yang dirawat inap maupun yang hanya berobat jalan. Bisa kusimpulkan di benak mereka pasti tersimpan pertanyaan dengan judul AADHI, Ada Apa Dengan Hari Ini. Hehehe… Ada yang bertanya ” Apa akan ada tamu spesial hari ini?”, yang lain bertanya “Apa ada petugas puskesmas yang menikah?” dan masih banyak pertanyaan lainnya. Jadi teringat saat berangkat ke kantor tadi pagi. Beberapa tetangga sempat bertanya mau kemana, padahal sudah jelas-jelas menenteng tas laptop dan membawa map plastik di tangan. Baru sadar, ternyata kostumnya lagi beda hari ini.

Jawabannya singkat saja. Semua ini dalam rangka menyambut Hari Jadi Provinsi Sulawesi Selatan yang ke-342 pada tanggal 19 Oktober 2011. Berdasarkan surat edaran dari pemerintah daerah bahwa seluruh instansi pemerintah yang sifatnya pelayanan publik, diwajibkan memakai pakaian adat Sulawesi Selatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Yaitu “baju bodo + lipa’ sabbe” untuk wanita dan “jas tutup + lipa’ sabbe + songkok toBone” untuk pria.

Inilah beberapa bentuk aktivitas pelayanan di dalam gedung puskesmas yang hari ini dilakukan dalam balutan pakaian adat Bugis.

Pelayanan di pendaftaran

Pemeriksaan tekanan darah di depan ruangan poliklinik umum

menunggu resep yang masuk, di apotek

Kesibukan di ruangan tata usaha

Tak hanya pelayanan di dalam gedung, di luar gedung pun para petugas diharuskan memakai pakaian adat turun ke lapangan. Termasuk dalam kegiatan Puskesmas Keliling, posyandu, Kampanye Campak dan Polio di wilayah kerja puskesmas.

Beberapa petugas sedang bersiap-siap turun ke lapangan untuk pelaksanaan Kampanye Imunisasi Campak dan polio

Awalnya memang agak susah karena keterbatasan dalam bergerak. Ini disebabkan keharusan memakai sarung sutra dan aksesoris lainnya.  Tapi lama kelamaan semua orang jadi terbiasa juga. Apalagi ini menjadi salah satu peristiwa unik dan jarang terjadi. Anggap saja ini adalah bentuk partisipasi aktif dan juga  suatu bentuk penghargaan dan kebanggaan sebagai masyarakat Sulawesi Selatan. Kapan lagi bisa eksis dan narsis kalau tidak di momen-momen seperti ini?! hehehe…… Piiizzzz…..

 

Foto bersama kepala puskesmas dan beberapa staf

Asyiknya Bermain Rumah-Rumahan

Pagi ini, setelah shalat subuh. Kusiapkan wimcycle “spyderman” kakak dan “family” roda tiga adik. Rencananya pagi ini kegiatan kita berjudul “bersepeda ria”. Namun apa hendak dikata, cuaca sedang tidak mendukung, tiba-tiba saja mendung tebal dan turun hujan deras. “Rainy in sunday morning”, acara bersepedanya batal deh.

Begitu bangun, sulungku langsung bertanya “Bunda, ini sudah pagi ya?”. “Iya, sayang” jawabku. “Horeeee…. Sebentar lagi bersepeda. Jadi kan Bunda?” tagihnya. Aku memang sudah berjanji padanya kalau pagi ini kita akan bersepeda. Mengingat hari ini hari minggu, biasanya kendaraan agak sepi jadi aku bisa bebas membiarkan sulungku mengayuh sepedanya tanpa kekhawatiran diserempet kendaraan yang biasanya lalu lalang. “Kakak dengar tidak, ini suara apa?” tanyaku. “ehm, apa ya?” lanjutnya sambil memegang telinga dan memasang wajah serius. “ah, aku tahu. Ini pasti suara petir dan rintik hujan Bunda.” jawabnya semangat. “yaaaaaah, berarti tidak jadi bersepeda deh.” Lanjutnya, ketika menyadari bahwa tidak mungkin bersepeda dibawah guyuran hujan.

Ada rasa iba, melihat kekecewaan di wajah sulungku. “Bagaimana kalau kita bermain building blocks” tawarku. “nggak ah, bosan…..” jawabnya. “atau main laptop?” lanjutku. “lagi nggak ingin” jawabnya. Aku jadi bingung kira-kira apa yang bisa mengobati kekecewaan sulungku.

“Ah, kenapa ya mesti ada hujan? Jadi basah semua, tidak bisa bermain sepeda. Coba kalau tidak pakai hujan kan bisa bersenang-senang bermain di luar. Terus kalau hujannya terus-terusan dan tidak mau berhenti nanti banjir. Terus rumahnya hanyut. Terus kita tinggal dimana?” Gerutunya panjang lebar. “Eh, Kakak…. Tidak boleh bilang begitu. Nanti Allah marah lho…. Kalau semisal tidak ada hujan, air sungai kering, air sumur juga kering. Terus Kakak minum pakai apa? Mandi pakai apa? Terus tanaman di siram pakai apa? Semua mahluk hidup bisa mati dong.” Kucoba memberi sedikit penjelasan. “kita juga bisa mati?” tanyanya. “ya, iyalah. Kakak, adik, bunda, ayah, mbah, bu de, pokoknya semua orang bisa mati.” Jawabku. “tapi kalau hujan terus-terusan kan bisa banjir bunda” lanjutnya. “iya Nak, tapi itu karena ulah segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Menebang pohon sembarangan, hutannya jadi gundul. Kalau hutannya gundul, tidak bisa menampung air di dalam tanah. Jadi begitu musim hujan tiba, airnya juga langsung mengalir kemana-mana karena tidak ada penahannya. Coba perhatikan kalo kakak dan adik keramas. Kalau kakak keramas airnya cepat kering karena rambut kakak pendek. Begitu disiram langsung turun. Kalau adik rambutnya agak panjang jadi keringnya agak lama, karena ada air yang tinggal disela-sela rambutnya yang panjang.”terangku. “Oh, begitu ya bunda?” lanjutnya manggut-manggut. Emil…. Emil… ada-ada saja.

Tak lama berselang adiknya bangun. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Bagaimana kalau Kakak main rumah-rumahan saja sama adik?!” tawarku. “Wah, iya, iya, iya…. Kakak mau, Bunda” sahutnya semangat. “Ayo dik Rafa, kita main rumah-rumahan” ajaknya yang langsung di amini oleh adiknya.

Jadilah acara Minggu pagi ini berganti judul menjadi “asyiknya bermain rumah-rumahan”

Diawali dengan menyusun satu persatu mainan huruf yang berbentuk persegi

Setelah menghubungkan beberapa bagian, bentuk bangunan mulai nampak

Nah, rumah-rumahannya sudah hampir selesai

Adik dan kakak siap menghuni rumah mainannya

Nah, seru bukan?! Selain bermain mereka juga bisa berkreasi dengan membuat bentuk bangunan sesuai dengan keinginannya. Lihatlah betapa gembiranya adik dan kakak menikmati hasil karyanya.

Akibat Pistol Mainan

Bermain adalah kegiatan yang sangat menyenangkan terutama bagi anak-anak. Tapi kadangkala karena kurang berhati-hati, tidak sedikit acara bermain yang seru berujung malapetaka. Ini memang sebuah kecelakaan, tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya dan tidak pernah diinginkan oleh siapapun. Tapi alangkah menyedihkan jika hal ini terjadi dikarenakan kita orang tua yang kurang bijak memilihkan jenis mainan untuk putra-putri kita.

Pagi ini, saat aku sedang merekapitulasi daftar hadir mingguan di kantor (kebetulan aku bekerja di puskesmas), tiba-tiba aku mendengar kegaduhan dari arah ruang tunggu pasien. Ada tangisan, jeritan panik bercampur baur. Sebenarnya hal seperti ini bukan hal yang asing lagi di tempat ini. Tapi kali ini sepertinya heboh sekali. Spontan kutinggalkan pekerjaan untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Ternyata, di ruang tunggu kulihat seorang anak berusia sekitar lima tahun sedang menjerit kesakitan dalam gendongan ibunya yang panik luar biasa. Sebelah matanya mengeluarkan darah sampai meleleh ke pipi. Sementara dokter segera membuatkan surat rujukan ke rumah sakit terdekat agar si anak mendapat perawatan lebih lanjut. Meski dengan rasa ingin tahu yang besar, kuurungkan juga niat untuk bertanya. Biar keriuhan karena kejadian ini mereda dahulu.

Setelah mobil ambulans yang membawa si anak berlalu, barulah aku bertanya pada petugas jaga, apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata, mata kiri anak tersebut terluka saat bermain tembak-tembakan mainan. Pelornya tepat mengenai mata, dan sepertinya ditembakkan dari jarak dekat.

Jadi teringat sekitar setahun yang lalu. Kejadiannya hampir sama, hanya saja waktu itu bukan mengenai mata tapi justru masuk ke lubang hidung. Untungnya dokter dan perawat di tempat ini bisa menindaki dan berhasil mengeluarkan pelor tersebut dari hidung si anak, sehingga tak perlu dirujuk ke rumah sakit. Tapi bisa dibayangkan, betapa repotnya saat mengeluarkan benda tersebut, empat orang petugas memegangi si anak yang terus meronta dan berteriak-teriak. Dokter pun mesti bersusah payah, kepala yang terus bergerak meski sudah di pegang, sesekali kena pukulan tangan dan terjangan kaki yang sempat terlepas dari pegangan. Namanya juga anak-anak, susah di atur. Tapi yang paling utama, ngeri….

Sebagai orang tua, hendaknya bijak memilih atau membeli mainan untuk putra-putri kita. Pertimbangkan manfaat dan bahayanya. Lihat apakah sesuai untuk usianya. Kadangkala di kotak tempat mainan ada peringatan “Age 3+, tidak cocok untuk anak di bawah usia tiga tahun, dsb.”

 

Salah satu pistol mainan yang aman untuk anak-anak

Anak yang bermain tembak-tembakan tak usah dilarang, karena itu salah satu bentuk kreatifitasnya. Coba perhatikan terkadang secara tidak langsung mereka sedang belajar bermain peran. Ada yang jadi penjahat, polisi, lalu kejar-kejaran, kemudian bersembunyi, ditangkap, dipenjara. Seru…. Hanya ada hal yang perlu kita perhatikan sebagai orang tua, apakah alat tembak yang digunakan seperti pistol mainan berbahaya untuknya atau tidak. Usahakan jangan memakai yang berpelor. Apalagi untuk anak dibawah usia lima tahun. Masih banyak pistol mainan dengan berbagai jenis yang hanya mengeluarkan bunyi dan sinar saja, tapi sangat menarik dan asyik dimainkan.

pistol mainan tanpa pelor yang sering dipakai Emil bermain

Ayah, Bunda, biarkan anak kita terus bermain. Tapi jangan lupa memilihkan mainan yang aman untuknya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat dia bermain . Mereka senang dan kita pun merasa tenang.

Emil berpose saat bermain tembak-tembakan

Gara-Gara Bedak

       Beberapa hari yang lalu, seperti biasa sulungku bercerita tentang aktivitasnya di sekolah. Sudah menjadi rutinitas, setiap aku pulang kantor, di waktu senggang, kuminta dia bercerita tentang kejadian apa saja yang terjadi di sekolah dan apa saja aktivitasnya. Kegiatan ini selain salah satu bentuk perhatian terhadap anak, juga untuk mengasah kemampuan verbalnya mendeskripsikan sesuatu.

Berjalan di atas titian, salah satu aktivitas Emil di PAUD


“Bunda, tadi PRku dapet 100 lagi.” “Tadi, disuruh menggambar sama Bu Guru, aku menggambar pemandangan, ada gunung, matahari, sawah sama mobil”. “ Tadi, olahraga bowling mainan, tiga kali lempar bola, pin-nya jatuh semua”.”Tadi, olahraga basket, disuruh 5 kali masukin bola ke keranjang, tapi kakak cuma bisa tiga kali”.”Tadi di sekolah, kakak di suruh memimpin teman-teman bersiap”. “Tadi di sekolah kakak paling cepat selesai nulisnya”, dan masih banyak lagi cerita lainnya.

       Tapi beberapa hari lalu ada yang berbeda. “Bunda, jangan marah ya?!” begitu katanya saat aku membuka percakapan dengannya dengan bertanya “Kak, bagaimana di sekolah hari ini? Ada kejadian apa saja?”. “Hmmm… Ada apa?” lanjutku. “Tapi janji jangan marah ya?!” pintanya. “Janji, tapi kakak harus cerita yang sebenarnya, jangan bohong, ok?” kataku. “Oke”. “Tadi kakak bertengkar dengan teman” katanya singkat. “Lho, kenapa?” selidikku. “ Kakak tidak suka, kemana-mana di ikuti, main apa saja dia juga mau main yang sama, terus dia marah-marah dan mendorong kakak sampai jatuh, jadinya kakak marah, kupukul saja dia” terangnya. “Lho, kok gitu. Tidak baik itu Kak, apalagi sama teman sekelas. Bertengkar itu perbuatan tidak terpuji. Anak shaleh ga boleh begitu…” kataku. “Kakak ga tanya, kenapa dia selalu mengikuti ?”lanjutku.”katanya sih, mau main sama Kakak, tapi kakak tidak mau” katanya. “Hah, kok Kakak begitu sih. Kenapa nggak mau?” tanyaku sedikit heran. “Kakak tidak suka, bedaknya coreng moreng di mukanya, tidak rata” jawabnya singkat. Ya Allah…. Mau marah, tapi menahan geli juga. Cuma gara-gara bedak….. ada-ada saja anak-anak.

       “Kak, berteman itu dengan siapa saja. Tidak hanya berteman dengan teman yang cantik atau yang ganteng saja. Tidak hanya dengan yang berbaju rapi saja. Tidak hanya dengan yang bersisir atau memakai bedak dengan rata. Barangkali saja waktu itu, bundanya lagi sibuk jadi dia memakai bedak sendiri, terus wajahnya masih basah karena waktu selesai mandi belum di lap tapi langsung bedakan, jadi deh belepotan. Kakak tidak ingat ya, kadang bunda juga begitu, kakak pernah bedakan tidak rata karena tidak sabaran nunggu bunda selesai, buru-buru mau main. Nah, besok coba kakak main sama-sama ya sayang!” terangku panjang lebar.

       Belakangan aku baru tahu nama anak itu Sultan. Anaknya jarang masuk sekolah karena ibunya baru melahirkan. Sekarang dia menjadi salah satu teman akrab Si Emil. Setiap hari selalu bermain bersama dan tidak pernah bertengkar lagi karena ternyata dia anaknya sabar dan suka mengalah. Ini kuketahui dari cerita si Emil yang dibenarkan oleh tantenya yang bertugas mengantar jemput Si Emil dari sekolah setiap harinya. Ternyata sejak awal dia ingin berteman hanya saja caranya yang salah. Eh, bisa jadi dia benar tapi sulungku yang salah tanggap. Ah, aku tak ambil pusing. Yang penting, anakku mendapatkan pelajaran yang berharga bahwa menilai sesuatu tak boleh hanya dari luarnya saja. Sekaligus mengingatkanku juga bahwa biarpun sudah dewasa tak jarang kita juga bertingkah seperti anak-anak, kita juga sering kali hanya melihat dan menilai sesuatu dari luarnya saja. Padahal belum tentu yang tampak kurang bagus dari luar berarti buruk juga isinya.