Akibat Pistol Mainan

Bermain adalah kegiatan yang sangat menyenangkan terutama bagi anak-anak. Tapi kadangkala karena kurang berhati-hati, tidak sedikit acara bermain yang seru berujung malapetaka. Ini memang sebuah kecelakaan, tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya dan tidak pernah diinginkan oleh siapapun. Tapi alangkah menyedihkan jika hal ini terjadi dikarenakan kita orang tua yang kurang bijak memilihkan jenis mainan untuk putra-putri kita.

Pagi ini, saat aku sedang merekapitulasi daftar hadir mingguan di kantor (kebetulan aku bekerja di puskesmas), tiba-tiba aku mendengar kegaduhan dari arah ruang tunggu pasien. Ada tangisan, jeritan panik bercampur baur. Sebenarnya hal seperti ini bukan hal yang asing lagi di tempat ini. Tapi kali ini sepertinya heboh sekali. Spontan kutinggalkan pekerjaan untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Ternyata, di ruang tunggu kulihat seorang anak berusia sekitar lima tahun sedang menjerit kesakitan dalam gendongan ibunya yang panik luar biasa. Sebelah matanya mengeluarkan darah sampai meleleh ke pipi. Sementara dokter segera membuatkan surat rujukan ke rumah sakit terdekat agar si anak mendapat perawatan lebih lanjut. Meski dengan rasa ingin tahu yang besar, kuurungkan juga niat untuk bertanya. Biar keriuhan karena kejadian ini mereda dahulu.

Setelah mobil ambulans yang membawa si anak berlalu, barulah aku bertanya pada petugas jaga, apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata, mata kiri anak tersebut terluka saat bermain tembak-tembakan mainan. Pelornya tepat mengenai mata, dan sepertinya ditembakkan dari jarak dekat.

Jadi teringat sekitar setahun yang lalu. Kejadiannya hampir sama, hanya saja waktu itu bukan mengenai mata tapi justru masuk ke lubang hidung. Untungnya dokter dan perawat di tempat ini bisa menindaki dan berhasil mengeluarkan pelor tersebut dari hidung si anak, sehingga tak perlu dirujuk ke rumah sakit. Tapi bisa dibayangkan, betapa repotnya saat mengeluarkan benda tersebut, empat orang petugas memegangi si anak yang terus meronta dan berteriak-teriak. Dokter pun mesti bersusah payah, kepala yang terus bergerak meski sudah di pegang, sesekali kena pukulan tangan dan terjangan kaki yang sempat terlepas dari pegangan. Namanya juga anak-anak, susah di atur. Tapi yang paling utama, ngeri….

Sebagai orang tua, hendaknya bijak memilih atau membeli mainan untuk putra-putri kita. Pertimbangkan manfaat dan bahayanya. Lihat apakah sesuai untuk usianya. Kadangkala di kotak tempat mainan ada peringatan “Age 3+, tidak cocok untuk anak di bawah usia tiga tahun, dsb.”

 

Salah satu pistol mainan yang aman untuk anak-anak

Anak yang bermain tembak-tembakan tak usah dilarang, karena itu salah satu bentuk kreatifitasnya. Coba perhatikan terkadang secara tidak langsung mereka sedang belajar bermain peran. Ada yang jadi penjahat, polisi, lalu kejar-kejaran, kemudian bersembunyi, ditangkap, dipenjara. Seru…. Hanya ada hal yang perlu kita perhatikan sebagai orang tua, apakah alat tembak yang digunakan seperti pistol mainan berbahaya untuknya atau tidak. Usahakan jangan memakai yang berpelor. Apalagi untuk anak dibawah usia lima tahun. Masih banyak pistol mainan dengan berbagai jenis yang hanya mengeluarkan bunyi dan sinar saja, tapi sangat menarik dan asyik dimainkan.

pistol mainan tanpa pelor yang sering dipakai Emil bermain

Ayah, Bunda, biarkan anak kita terus bermain. Tapi jangan lupa memilihkan mainan yang aman untuknya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat dia bermain . Mereka senang dan kita pun merasa tenang.

Emil berpose saat bermain tembak-tembakan

3 Komentar

  1. hati-hati jangan sampai terjadi hal serupa

    • ngeri, nggak bisa bayangin klo kejadiannya menimpa kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: