Melayani Dalam Balutan Pakaian Adat Bugis

Ada yang berbeda hari ini di puskesmas tempatku bekerja. Biasanya pada hari selasa, hanya ada dua warna seragam yang dikenakan petugas, yakni pakaian dinas harian berwarna khaky bagi petugas non medis dan putih putih bagi dokter dan paramedis (perawat). Tapi aturan itu tidak berlaku untuk hari ini dan besok pagi (tanggal 18 dan 19 Oktober 2011). Hari ini benar-benar “full colour”, nyaris semua warna ada. Suasana apel pagi pun seolah berubah jadi ajang pemilihan “ana’ dara (gadis) dan kallolo (bujang) na Sidenreng”, hehehe….

Suasana apel pagi di halaman puskesmas

Sepanjang pagi kulihat keheranan di wajah pasien dan keluarga. Baik yang dirawat inap maupun yang hanya berobat jalan. Bisa kusimpulkan di benak mereka pasti tersimpan pertanyaan dengan judul AADHI, Ada Apa Dengan Hari Ini. Hehehe… Ada yang bertanya ” Apa akan ada tamu spesial hari ini?”, yang lain bertanya “Apa ada petugas puskesmas yang menikah?” dan masih banyak pertanyaan lainnya. Jadi teringat saat berangkat ke kantor tadi pagi. Beberapa tetangga sempat bertanya mau kemana, padahal sudah jelas-jelas menenteng tas laptop dan membawa map plastik di tangan. Baru sadar, ternyata kostumnya lagi beda hari ini.

Jawabannya singkat saja. Semua ini dalam rangka menyambut Hari Jadi Provinsi Sulawesi Selatan yang ke-342 pada tanggal 19 Oktober 2011. Berdasarkan surat edaran dari pemerintah daerah bahwa seluruh instansi pemerintah yang sifatnya pelayanan publik, diwajibkan memakai pakaian adat Sulawesi Selatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Yaitu “baju bodo + lipa’ sabbe” untuk wanita dan “jas tutup + lipa’ sabbe + songkok toBone” untuk pria.

Inilah beberapa bentuk aktivitas pelayanan di dalam gedung puskesmas yang hari ini dilakukan dalam balutan pakaian adat Bugis.

Pelayanan di pendaftaran

Pemeriksaan tekanan darah di depan ruangan poliklinik umum

menunggu resep yang masuk, di apotek

Kesibukan di ruangan tata usaha

Tak hanya pelayanan di dalam gedung, di luar gedung pun para petugas diharuskan memakai pakaian adat turun ke lapangan. Termasuk dalam kegiatan Puskesmas Keliling, posyandu, Kampanye Campak dan Polio di wilayah kerja puskesmas.

Beberapa petugas sedang bersiap-siap turun ke lapangan untuk pelaksanaan Kampanye Imunisasi Campak dan polio

Awalnya memang agak susah karena keterbatasan dalam bergerak. Ini disebabkan keharusan memakai sarung sutra dan aksesoris lainnya.  Tapi lama kelamaan semua orang jadi terbiasa juga. Apalagi ini menjadi salah satu peristiwa unik dan jarang terjadi. Anggap saja ini adalah bentuk partisipasi aktif dan juga  suatu bentuk penghargaan dan kebanggaan sebagai masyarakat Sulawesi Selatan. Kapan lagi bisa eksis dan narsis kalau tidak di momen-momen seperti ini?! hehehe…… Piiizzzz…..

 

Foto bersama kepala puskesmas dan beberapa staf

2 Komentar

  1. nanti pakai baju bodo lagi🙂

    • Pakenya cuma 2 hari, tanggal 18 & 19 oktober. Bajunya dah dibalikin😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: